Kursi oh kursi…

Beberapa hari terakhir ini, demi menghemat keadaan keuangan yang sedang menipis, gwa selalu memilih nebeng temen (hihihihi..) ato naek metromini sepulang kerja. Dari beberapa kali pengamatan itu, ada satu hal yang rasanya kok sangat menggangguku ya?

Perebutan kursi. Yak, tampaknya perebutan kursi bukan hanya milik mereka petinggi-petinggi negara saja, tapi juga milik mereka (yak, mereka!) penumpang metromini nan butut dan usang. Mengherankan memang, apalagi rata-rata mereka yang berebut kursi tak lagi pandang usia dan barang bawaan. Ga masalah sebenarnya bagi gwa kalo mereka melakukannya dengan cara sopan dan beradab. Tapi menjadi masalah buatku ketika, seorang ibu-ibu yang hendak turun dan berdiri dari kursinya kemudian menjadi terhambat jalannya hanya kerena wanita muda yang berdiri di depanku ini keukeuh ingin segera menduduki kursi peninggalan si ibu tanpa melihat apakah si ibu tertubruk badannya atau tidak. Padahal ada wanita muda lainnya di dekatnya yang kerepotan membawa laptop dan tas di kedua tangannya yang setauku bahkan sudah naik metromini ini sebelumku.

Apakah kota ini membentuk orang-orang muda ini untuk kemudian menjadi tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya? Apakah kursi itu kemudian menjadi sedemikian maha pentingnya demi alasan merehatkan kaki yang lelah, badan yang penat? Oh come on! Kita semua tentu sama lelahnya, lantas apa itu bisa menjadi alasan kita untuk membutakan mata dan mengkebaskan perasaan melihat mereka yang mungkin lebih membutuhkan?

Lihatlah suatu ketika, ketika seorang gadis berusia lebih muda dariku dengan sigapnya langsung memberikan kursi yang baru dia duduki demi melihat seorang ibu-ibu naik ke metromini kami sementara pemuda-pemuda di sebelahnya tetap tak bergeming dan duduk dengan manisnya di kursi yang mungkin sudah menyatu dengan tubuhnya. Malu rasanya melihat generasi-generasiku yang ternyata bahkan tidak sanggup untuk berdiri di kakinya sendiri hanya untuk beberapa saat. Marilah teman-teman, mulailah dari diri sendiri, dari hal yang paling kecil, tunjukkan bahwa kita berguna tidak hanya bagi diri kita sendiri, keluarga kita sendiri, tapi juga bagi orang lain dan lingkungan kita.
Semoga bangsa ini menjadi bangsa yang besar, kalau tidak sekarang, semoga bisa di kemudian hari, amien…

Setelah gwa pikir-pikir lagi…

ternyata berprasangka baik itu membuat kita bisa lebih mau untuk mengenal seseorang lebih jauh.. coba aja seandainya gwa dari awal udah berburuk sangka terhadapnya, ga akan deh gwa menemukan sesuatu yang ternyata pada akhirnya menyebabkan gwa menyesal sudah mengenalnya lebih jauh, wowh, you get the point, don’t you?

menyesal gwa udah berbaik sangka tentangnya… cukup tau deh gwa… :P

Hey…

ternyata gwa tetep masih ga bisa memahami sifat-sifat orang yang ada di sekitar gwa.. selama ini gwa selalu mencoba bwat bisa menerima setiap orang apa adanya en belajar untuk terbiasa dengan sifat orang itu..

Wowh, tapi hari ini pengen banget gwa rasanya teriak ke orang itu, “Hey, loe kenapa seeeehhh??!!”

Kayanya…

semakin gwa berharap en menginginkan sesuatu, semakin hal itu menjauh dan susah untuk gwa jangkau…

Oh iya, ampe lupa..

Met Taun Baru Hijriah 1430H en Met Taun Baru 2009!

Udah lama ga update blog…

tau-tau tampilan admin wordpress udah berubah ajah…
Hemhp, ada pula yang namanya QuickPress…
I’m wondering what it is…

Bali! Bali! Bali!

Hay smuah! Kali ini – as per request – gwa akan posting Happy Trip Family to Heaven pas ke Bali weekend kemaren…

Yang ikutan liburan kali ini adalah (in alphabetical order): Alberto Boy Dopo, Gustavianus Anggen, Hilda Lussiana, Irwan Lawijaya, Ismadi Santoso, Rizky Ardianto, Robertus Pekujawang, Sari Sukmawati, en me!

Trip ini udah direncanakan jauh-jauh hari di suatu pagi di ruang TornadoN dan dicetuskan asal-asalan oleh si eneng Hilda: Es, ke Bali yuk! dan akhirnya…

…Jumat, 31 November October 2008, jam 18:50 WIB, berangkatlah kami bersembilan ke Pulau Dewata Bali dengan Air Asia… Setelah sebelumnya pesawat Air Asia yang seharusnya dijadwalkan berangkat jam 17:55 WIB delay dan menyebabkan MaxiCab (motto kebanggaan kami: hanya ada 5 unit MaxiCab yang ada di seantero kota metropolitan Jakarta ini, dan kami menggunakan salah satunya!) harus di-reschedule untuk menjemput kami jam 5 sore, cih…

Untuk tiket pesawat Air Asia Jakarta – Bali / Bali – Jakarta, kami harus merogoh kocek sebesar @Rp 1.010.800, dan untuk MaxiCab yang muat untuk max. 9 orang dengan tujuan Plaza Kuningan – Bandara Cengkareng, kami mengeluarkan uang sebesar Rp 200.000 untuk ber-9, murah kaaan?

Foto dulu bersama MaxiCab..

Foto dulu bersama MaxiCab..

Sampai di bandara Ngurah Rai – Denpasar, waktu sudah menunjukkan pukul 21:45 WITA (CMIIW, aga2 jetlag uy…) en tak ada satupun taksi di mangkal di depan pintu kedatangan domestik, walhasil jalanlah kami menuju gerbang bandara dan setelah bermenit-menit yang melelahkan dengan pemotretan, datanglah 2 buah taksi lokal yang lebih demen dibayar dengan sistem borongan daripada pake argo. Tujuan menginap kami adalah ke Penginapan Agung Putra di Poppy’s Lane 1 yang udah di-booked sama Nila en Cahyo (thank you, guys! can’t make it without you!), en dengan alesan macet di Kuta-nya, supir-supir itu ngotot pake borongan, fiuh, untung kami lebih ngotot, wakakakaka…en untuk orang sebanyak kami, kami cuman butuh 2 taksi en satu taksi-nya menghabiskan kira-kira 25ribuan (iya ga? lupa uy)

Sampai di penginapan, kami langsung menuju kamar yang udah di-booking, en setelah perdebatan en pindah-pindah kamar (lebih dikarenakan kami berniat “berhemat”; tarif kamar dengan Fan per harinya Rp 155.000; tarif kamar dengan AC per harinya Rp 215.000, itu di luar TV en additional bed if I’m not mistaken. Total tarif per hari untuk kamar dengan Fan dan AC (include breakfast+TV+additional bed+tax): Rp 248.000 dan Rp 318.000)

Kami booking 3 kamar, 2 dengan Fan dan 1 dengan AC untuk kami ber-9 selama 3 hari…

Suasana penginapannya menyenangkan, didominasi dengan bule-bule yang menguasai kolam renang sampai kami mengira mereka emang nginep di tuh kolam renang, cih… En kamar yang di-booking Nila-Cahyo untuk kami menghadap ke taman en berada di lantai 2. Kamar mandi lumayan bersih, walopun minus pintunya ga bisa dikunci en agak menerawang. Yah, cukup baiklah secara keseluruhan mengingat kami langsung menganggapnya sebagai kost-an kami sendiri keesokan harinya, kekekekeke… Tempat tidurnya ukuran king size yang cukup untuk gwa, Hilda, en Sari tiduri bertiga (additional bed-nya mubazir dew) en penginapan ini pun sudah menyediakan TV Cable, en TV swasta, serta TV lokal… Lokasinya pun sangat strategis, ujung jalan (atau gang ya? sempit banget soalnya) Poppy’s Lane 1 ini tepat di depan pantai Kuta, sementara ujung lainnya tepat di Jalan Legian, walopun harus menyusuri setengah panjang jalan Poppy’s Lane 1 untuk mencapai ke penginapan ini, tapi jangan khawatir, bwat yang malas jalan ato lebih baik ngesot daripada jalan, selalu ada tukang ojek siap melayani di mulut gang Poppy’s Lane 1…

Ga cukup makan malam dengan KFC di Bandara Cengkareng sebelumnya, kami mencoba menjajal makanan di Kuta food center yang ga jauh dari Poppy’s Lane 1. Ternyata, papan yang terpampang dan terbaca oleh kami pertama kalinya adalah Mie Jakarta! (berasa masih di Jakarta deh)… Waktu udah menunjukkan pukul 00.30 WITA ketika itu, dan perut-perut lapar kami pun akhirnya berhenti bergemuruh setelah menghabiskan menu-menu pilihan kami sendiri… (menu gwa: Bihun goreng+Teh Botol: sekitar Rp 25.000)

Day 1:

Jam setengah 8 pagi (red. in WITA, inget ya…so gwa ga perlu menuliskannya lagi sampai kami tiba di jakarta kembali…) kami udah siap sedia, menunggu jemputan dari Bounty Cruise yang berjanji akan menjemput jam setengah 9… Sarapan di penginapan ini baru disediakan jam 8 pagi sampai jam 12 siang en cuman menyediakan Continental Menu. Well, alhasil sebelum jam 8 kami udah nongkrong di kafe-nya dengan perut lapar.

Ga berapa lama nunggu setelah sarapan, dateng deh mobil jemputan kami dari Bounty Cruise (Mas Lawi lebih memilih untuk tidur daripada ikutan tamasya dengan Bounty Cruise ini, ckckckck, sooo Mas Lawiii…) dan siap mengantar kami menuju Benoa untuk bersenang-senang! (biaya per orang untuk tamasya dengan Bounty Cruise – include: snack, sub marine, banana boat, snorkeling, village tour to Lembongan, canoeing, Lunch, antar jemput PP – Rp 525.000, dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore)

Kapal Pisang..

Kapal Pisang..

Perjalanan menuju Desa Lembongan, eh, ato mo snorkeling ya? Lupa.. :P

Perjalanan menuju Desa Lembongan, eh, ato mo snorkeling ya? Lupa.. :P

Setelah kembali ke penginapan, mandi, en beres-beres, kira-kira jam 6-7 sore kami siap untuk makan malam. Dengan berbekal guidance dari Nila en Cahyo, kami berjalan agak jauh ke Made Restaurant (hiks, ternyata tidak sepenuhnya halal), en berjalanlah kami kembali menyusuri Legian menuju Nasi Pedas langganan Cahyo yang berlokasi dekat JOGER. Nyam, nyam, nyam, tempat ini aseli gwa rekomendasikan bwat turis lokal karena ga cuman murah, tapi juga enak! (Nasi+sayap ayam+ati ayam+terong+teh botol: Rp 15.000) Ga sia-sia dew kita jalan kaki sejauh itu… FYI, warung Nasi Pedas ini buka 24 jam loh, en disediakan lesehan di emperan toko…

Nasi Pedas ini sungguh-sungguh pedas! Lihatlah mimik mereka, fufufufu...

Nasi Pedas ini sungguh-sungguh pedas! Lihatlah mimik mereka, fufufufu...

Abis makan, kembali kami menyusuri jalan Legian, kali ini sekalian liat-liat ke toko-toko yang berderet di sana… Ga perlu berapa lama, akhirnya kami berpencar… Ada yang nongkrong di kafe-kafe, ada yang belanja-belanja (kami yang cewe tentunya! kebetulan toko yang kami kunjungi lagi mengadakan program 3 days sale, kekekeke…)

Day 2:

Rencana kami hari ini setelah sarapan pagi adalah Parasailing ke Nusa Dua (eh, ato Benoa?) dengan 2 mobil jemputan yang sudah siap menjemput kami jam 9. Oh iya, di Poppy’s Lane 1 ini, lo juga bisa nemuin laundry yang diitung per kg Rp 8.000, en sehari langsung jadi (ko kaya cetak foto ya?) (Biaya parasailing @ Rp 80.000 dan biaya diving selama 1 jam @ Rp 250.000, exclude video diving)

Sebelum Parasailing!

Sebelum Parasailing!


Acara selanjutnya adalah belanja ke JOGER! Tak lupa mampir lagi ke Nasi Pedas, kekekekeke, ketagihan… (1 kaos at JOGER rata2 Rp 55.000)

Dilanjutkan dengan wisata ke GWK,

Ceria di bawah patung Burung Garuda!

Ceria di bawah patung Burung Garuda!


Uluwatu (kalo lo pake celana di atas lutut, lo bakal diwajibkan mengenakan kain),
Pink is everywhere! :P

Pink is everywhere! :P


en dinner at Jimbaran (sewa 1 APV untuk 9 orang ke 3 tempat tersebut: Rp 200.000, tip ke bapak supir: Rp 50.000; tiket masuk GWK @ Rp 16.500; tiket nonton Tari Kecak di Uluwatu @ Rp 50.000) Nah, dinner di Jimbaran di pinggir pantai ini yang agak menyesakkan… Total biaya yang kami habiskan untuk 9 orang (ikan kakap+baronang bakar, 9 udang goreng, 18 kerang bakar, en minuman: Rp 710.000), untungnya nasi dan kangkungnya disediakan sepuasnya, wakakakaka, kalo ga kami udah siap dengan Plan B menuju Nasi Pedas, again!
Untung nasi dan kangkungnya boleh nambah sepuasnya, fiuhh..

Untung nasi dan kangkungnya boleh nambah sepuasnya, fiuhh..

Pulangnya kami melewati tempat pembuatan tattoo di Kuta Square; Mas Lawi, Beto, en Boy menyempatkan untuk menggambari anggota badannya dengan tattoo temporary, sementara kami nongkrong di Coffee Bean, dan kemudian pulang ke penginapan untuk tiduurr! (tattoo temporary ukuran kecil: Rp 40.000, coffee bean dibayar pake promo kartu kredit neng Hilda!)

Day 3:

Acara hari ini dimulai dengan berjalan-jalan sepanjang pantai Kuta, ada yang udah mandi, ada yang belum, tapi kami tetap ceria difoto! (Biaya: gratis!)

Setelah itu, acara bebas. Gwa milih bwat melewatkan sarapan pagi dengan berjalan-jalan ke Pasar Seni Kuta bwat hunting oleh-oleh.

Tips berbelanja di sini:

  • Kalo bisa pagi-pagi jam 9 ketika mereka baru buka, biasanya dilayani lebih baik walopun nawar mulu, kekekeke…
  • Jangan lupa untuk nawar lebih dari seperempat harganya, karena harga yang mereka tawarkan pada awalnya aseli ngerampok! Misal harga barangnya: Rp 100.000; tawarlah Rp 20.000 (oups, itu seperlimanya ya? hehehehe, tapi biasanya dikasihnya seperempat harganya…)
  • Jangan ragu bwat menjalankan aksi pura-pura pergi dan berlalu, karena dijamin mereka pasti manggil lagi en kalopun engga, lo masih bisa nemuin puluhan toko lain yang menjual barang yang serupa…
  • Trus usahain kalo udah nemuin toko yang menjual paling murah di antara yang lain, beli banyak oleh2mu di situ, jatuhnya lebih murah kalo lo gunain alesan: “Saya kan beli banyak…” daripada beli satu atau dua barang di toko-toko yang berbeda…

Abis itu, kita mau ke Double Six AJ Hackett bwat Bungee Jumping! Save the best for last is the best quote for this experience!

Emang cuman beberapa menit, tapi rasanya itu loohh, gilaaa, keren abiiisss! (Biaya Bungee Jumping AJ Hacket: Rp 550.000, tapi setelah ditawar-tawar jadi Rp: 450.000 dengan kaos kerennya, ato Rp 425.000 tanpa kaos. Semuanya plus sertifikat en member card yang ngasih diskon sampai 3 kunjungan berikutnya di semua cabang AJ Hackett di dunia! Biaya foto en video – optional – Rp 190.000 en Rp 285.000)

Saat-saat menuju eksekusi...

Saat-saat menuju eksekusi...


Selesai bungee jumping, kita semua (entah ide syapa) berencana berjalan menyusuri pantai Kuta dari Double Six ke Poppy’s Lane! Untungnya separo dari kami berhasil melarikan diri dengan taksi temuan ga jauh dari Double Six. Dan sisanya (Beto, Gustav, Boy, en Ismadi) memilih bwat jalan kaki ke penginapan, wakakakakaka, berapa kilo guys? 3 kilometer ya? Andai kalian melihat ekspresi kalian ketika sampai di kamar, hahahahahaha…. (Taksi ke penginapan dari Double Six: Rp 25.000)

Oh iya, karena peraturan penginapan ini mengharuskan kami harus check out jam 12 siang, kami memutuskan untuk hanya menyisakan 1 kamar sebagai tempat transit barang-barang kami selama menunggu jam penerbangan ke Jakarta, dan jadilah kami bertumpuk-tumpuk di satu kamar layaknya para imigran gelap yang mesti ngantri untuk mandi, hehehehehe…

Akhirnya, jam 21.05 WITA, kami harus pulang meninggalkan tempat menyenangkan ini…

Ga ada delay Air Asia, menyebabkan kita makan malam dengan terburu-buru di Solaria Bandara…

What a holiday! And to have you all as my friends there maked this holiday such a perfect journey…

Luv u all, guys n gals…

Daag Bali…

*Thanks bwat Risuki bwat detail harga-harganya en jasanya sebagai bendahara, kekekekeke…

en thanks juga bwat Risuki, Beto, Ismadi, en Mas Lawi yang udah mengabadikan momen-momen penting along this journey dengan kamera-kamera hebatnya! (ga apal model apaan ajah… :P )

Poto-poto menyusul yak, lagi workshop niy.. :)

Gwa dibayar di perusahaan ini untuk…

…browsing, donlot, training, baca novel, nonton Heroes season 3, en nonton pertunjukkan sulap Beto!

…bekerja, bekerja, dan bekerja lagi sampai malaaammmm… *dicurigai hal ini timbul akibat posting-ku di atas ini, thanks suton for reminding me, wakakakakakaka…

What a life!

Have you watched Laskar Pelangi The Movie?

Well, dengan ga bermaksud menyakiti hati siapa-siapa – kecuali Riri Riza en Mira Lesmana (I hope they read my post here!) – film Laskar Pelangi merupakan salah satu (lagi!) produk gagal sutradara dalam menterjemahkan sebuah buku ke dalam sebuah film. Alih-alih menjaga dan mempertahankan esensi sebuah buku (yang ironisnya based on true story), mereka malah menambahkan bumbu-bumbu ga penting dengan artis-artis yang ga penting pula. Seolah-olah kehadiran bocah-bocah pemeran laskar pelangi itu ga cukup untuk mendongkrak minat masyarakat. Well, fyi, dari semua pemeran-pemeran yang ada di film itu, cuman tokoh laskar pelangi-lah yang terkesan paling alami dan paling masuk ke dalam karakter masing-masing. Four thumbs up for those kids!
 
Siapa pula itu Tora Sudiro? Kehadiran Tora Sudiro seolah-olah membuat sang sutradara merasa berkewajiban untuk memberinya satu/dua dialog yang aseli sama sekali ga penting demi nama seorang Tora Sudiro terpampang di poster-poster dan reklame-reklame. Yaiks.
Ya, ya, ya, gwa tau kalo emang buku dan film adalah dua hal yang sama sekali berbeda, dan terlepas dari imajinasi masing-masing pembaca, tetep aja gwa berpikir walaupun sebuah buku diterjemahkan secara bebas ke dalam film, ditambahi dengan bumbu-bumbu percintaan mungkin, atau hal-hal lainnya, SEHARUSNYA esensi dan pesan moral serta semua hal-hal yang membuat kita terinspirasi oleh bukunya HARAM hukumnya untuk diubah apalagi dihilangkan.
 
Lagi-lagi gwa menyayangkan “mubazir”-nya bakat-bakat dari bocah-bocah pemeran Laskar Pelangi karena ternyata Riri Riza dan Mira Lesmana ga punya cukup potensi untuk tetap menjaga esensi Buku Laskar Pelangi ini. Seharusnya, tokoh Lintang dan Mahar adalah dua tokoh utama yang tersorot dalam film ini (dua bocah kecil yang memang memiliki bakat dan kecerdasan di atas rata-rata). Dan kalau lo baca bukunya, lo akan segera jatuh cinta pada sosok Lintang yang sangat menginspirasi dan pintar luar biasa. Berapa siy jumlah anak di Indonesia yang saat duduk di kelas 5 SD sudah menguasai teori relativitas dan integral? Mungkin akan terasa bisa dimaklumi saja bwat seorang anak yang memang didukung oleh fasilitas-fasilitas memadai. Tapi  Lintang, bahkan dia ga punya cukup penerangan untuk menemaninya belajar di malam hari. Itu dia yang membedakannya dengan anak-anak lain, sementara semua anak tidur terlelap di malam hari, Lintang memilih untuk membaca buku-buku tua milik kepala sekolah dan melahap semua ilmu, dan dengan kerja keras dan ketekunannya, dengan rasa hausnya akan ilmu, Lintang bahkan sanggup “mengalahkan” seorang guru bergelar S2 dari kota. Nah, apa lo bisa lihat adegan itu di film? NO, yang akan lo temui malah kepintaran “standar”, that’s all! Bukan salah si pemeran, bahkan gwa rasa anak kecil ini sangat baik dalam memerankan seorang Lintang. Tapi, lagi-lagi sutradara ga bisa menangkap momen penting dalam pembentukan karakter Lintang. Dialog-dialog yang dibuatkan untuk Lintang sangat kurang mencerminkan semangat juang dan haus ilmu seorang Lintang. Yang kemudian bahkan setelah dia besar dan hanya menjadi supir truk, seorang Lintang masih tetap memperdebatkan teori relativitas Einstein dalam kehidupan sehari-harinya. Kemiskinan dan putus sekolah yang dialami Lintang tidak lantas membuatnya lupa akan semangat dan rasa hausnya akan ilmu.
 
Membaca Laskar Pelangi dan menyadari bahwa ada seorang anak manusia Indonesia yang tersia-siakan kepintaran dan semangat juangnya, membuat adegan Lintang meninggalkan sekolah seharusnya menjadi klimaks film ini. Dan disitulah esensi buku ini, bahwa kemiskinan dan tekanan hidup, tidak semestinya disesali dan diratapi, dan dianggap sebagai “excuse” untuk tidak belajar dan menimba ilmu. Jika hanya semangat dan mimpi yang kau punyai, itu saja sudah cukup untuk bisa meraih apapun yang kau inginkan.
 
HAH, semoga Sang Pemimpi ga dibikin film-nya. Ato kalopun dibikin, pliiisss, jangan dua oknum ini lagi donk yang jadi sutradaranya!
Pengen banget nimpuk mereka pake buku Laskar Pelangi yang hardcover begitu keluar dari studio!
 
*Post ini dibikin di sela-sela kerjaan gwa yang segunung dan himpitan waktu untuk pulang ke Bandung sore ini! Cuman untuk mengeluhkan kinerja kedua orang ini. Mengeluh! Mengeluh! Mengeluh saja!

Menunggu yang tak kunjung datang…

Dari Senin kuberharap-harap cemas akan bertemu dengannya hari Rabu…

Hari Selasa berlalu tanpa rasa cemas, karena aku tahu baru besok dia akan datang…

Hari Rabu, baiklah, aku tunggu hingga sore dan hingga hari ini, hari Jumat…

hiks…

Baru Senin minggu depan ternyata dia akan datang…

Marhaban Yaa Ramadhan…

Karena eh karena ini hari terakhir onlen di kantor nan gratis, well, gwa mo ngucapin:
Met puasa semuanya! En sebelumnya, gwa dengan penuh ketulusan dan keikhlasan menghaturkan maaph atas semua kesalahan gwa baik yang disengaja maupun yang tidak di sengaja…

Maaphin semua salah-salah gwa yaa…
En semoga kita semua bisa menjalankan amal ibadah puasa di bulan Ramadhan ini sseebaik-baiknyaaaa…

xoxo,

..estee..