Have you watched Laskar Pelangi The Movie?
Well, dengan ga bermaksud menyakiti hati siapa-siapa – kecuali Riri Riza en Mira Lesmana (I hope they read my post here!) – film Laskar Pelangi merupakan salah satu (lagi!) produk gagal sutradara dalam menterjemahkan sebuah buku ke dalam sebuah film. Alih-alih menjaga dan mempertahankan esensi sebuah buku (yang ironisnya based on true story), mereka malah menambahkan bumbu-bumbu ga penting dengan artis-artis yang ga penting pula. Seolah-olah kehadiran bocah-bocah pemeran laskar pelangi itu ga cukup untuk mendongkrak minat masyarakat. Well, fyi, dari semua pemeran-pemeran yang ada di film itu, cuman tokoh laskar pelangi-lah yang terkesan paling alami dan paling masuk ke dalam karakter masing-masing. Four thumbs up for those kids!
Siapa pula itu Tora Sudiro? Kehadiran Tora Sudiro seolah-olah membuat sang sutradara merasa berkewajiban untuk memberinya satu/dua dialog yang aseli sama sekali ga penting demi nama seorang Tora Sudiro terpampang di poster-poster dan reklame-reklame. Yaiks.
Ya, ya, ya, gwa tau kalo emang buku dan film adalah dua hal yang sama sekali berbeda, dan terlepas dari imajinasi masing-masing pembaca, tetep aja gwa berpikir walaupun sebuah buku diterjemahkan secara bebas ke dalam film, ditambahi dengan bumbu-bumbu percintaan mungkin, atau hal-hal lainnya, SEHARUSNYA esensi dan pesan moral serta semua hal-hal yang membuat kita terinspirasi oleh bukunya HARAM hukumnya untuk diubah apalagi dihilangkan.
Lagi-lagi gwa menyayangkan “mubazir”-nya bakat-bakat dari bocah-bocah pemeran Laskar Pelangi karena ternyata Riri Riza dan Mira Lesmana ga punya cukup potensi untuk tetap menjaga esensi Buku Laskar Pelangi ini. Seharusnya, tokoh Lintang dan Mahar adalah dua tokoh utama yang tersorot dalam film ini (dua bocah kecil yang memang memiliki bakat dan kecerdasan di atas rata-rata). Dan kalau lo baca bukunya, lo akan segera jatuh cinta pada sosok Lintang yang sangat menginspirasi dan pintar luar biasa. Berapa siy jumlah anak di Indonesia yang saat duduk di kelas 5 SD sudah menguasai teori relativitas dan integral? Mungkin akan terasa bisa dimaklumi saja bwat seorang anak yang memang didukung oleh fasilitas-fasilitas memadai. Tapi Lintang, bahkan dia ga punya cukup penerangan untuk menemaninya belajar di malam hari. Itu dia yang membedakannya dengan anak-anak lain, sementara semua anak tidur terlelap di malam hari, Lintang memilih untuk membaca buku-buku tua milik kepala sekolah dan melahap semua ilmu, dan dengan kerja keras dan ketekunannya, dengan rasa hausnya akan ilmu, Lintang bahkan sanggup “mengalahkan” seorang guru bergelar S2 dari kota.
Nah, apa lo bisa lihat adegan itu di film? NO, yang akan lo temui malah kepintaran “standar”, that’s all! Bukan salah si pemeran, bahkan gwa rasa anak kecil ini sangat baik dalam memerankan seorang Lintang. Tapi, lagi-lagi sutradara ga bisa menangkap momen penting dalam pembentukan karakter Lintang. Dialog-dialog yang dibuatkan untuk Lintang sangat kurang mencerminkan semangat juang dan haus ilmu seorang Lintang. Yang kemudian bahkan setelah dia besar dan hanya menjadi supir truk, seorang Lintang masih tetap memperdebatkan teori relativitas Einstein dalam kehidupan sehari-harinya. Kemiskinan dan putus sekolah yang dialami Lintang tidak lantas membuatnya lupa akan semangat dan rasa hausnya akan ilmu.
Membaca Laskar Pelangi dan menyadari bahwa ada seorang anak manusia Indonesia yang tersia-siakan kepintaran dan semangat juangnya, membuat adegan Lintang meninggalkan sekolah seharusnya menjadi klimaks film ini. Dan disitulah esensi buku ini, bahwa kemiskinan dan tekanan hidup, tidak semestinya disesali dan diratapi, dan dianggap sebagai “excuse” untuk tidak belajar dan menimba ilmu. Jika hanya semangat dan mimpi yang kau punyai, itu saja sudah cukup untuk bisa meraih apapun yang kau inginkan.
HAH, semoga Sang Pemimpi ga dibikin film-nya. Ato kalopun dibikin, pliiisss, jangan dua oknum ini lagi donk yang jadi sutradaranya!
Pengen banget nimpuk mereka pake buku Laskar Pelangi yang hardcover begitu keluar dari studio!
*Post ini dibikin di sela-sela kerjaan gwa yang segunung dan himpitan waktu untuk pulang ke Bandung sore ini! Cuman untuk mengeluhkan kinerja kedua orang ini. Mengeluh! Mengeluh! Mengeluh saja!



menurut gue, filmnya bagus ah. ngga mengecewakan. emang siapa yang pantes ngebuat versi film nya menurut lo.? atau malah ngga pantes dibuat filmnya sama sekali.??
rndi dnanta
September 26, 2008
Next question is: Have you read the book?
Karena yang gwa permasalahkan di sini adalah ketidakpiawaian dua orang ini untuk menerjemahkan buku Laskar Pelangi ke dalam film. Kalo masalah bagus engga-nya film ini gwa rasa ga ada yang bilang film ini jelek, apalagi pesaingnya cuman film-film bergenre komedi-mesum ato paling mentok yang bergenre hantu-hantuan.
Hemph, kalo menurut gwa, yang pantes bikin film genre kaya Laskar Pelangi mungkin Alenia Pictures kali ya? Yang tujuan PH mereka emang jelas ga sekedar komersil n jelas mengutamakan pesan moral di setiap film-nya. Dan lagi sutradara en produsernya jelas satu konsep untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, ga kaya produser-produser IN*IA itu loh… (serius gwa..
)
..estee..
September 29, 2008
iyu, jele’ ckabul pilm nya itu yu buub..
(ngebantuin)
gaara nan kekar
September 30, 2008
Bikin film adaptasi dari novel (apalagi best seller) memang susah, kalo udah kejual 100.000 kopi dan semua pembeli udah pada baca, bakal ada sekitaran 100.000 interpretasi dan imajinasi yang timbul dari pembacanya.
Seorang sineas tentunya ga bisa muasin segitu banyak orang saat bikin film adaptasi ini. Mungkin kesan anak SD yang baca beda dengan yang udah SMP, SMA atau yang pernah kuliah & udah belajar kalkulus, relativitas atau teori kuantum. Makanya kita bisa bayangin (waktu baca) gimana pinternya lintang yang masih SD udah bisa teori ini. Tapi coba bayangin anak SMP yang baca, dia ga akan berfikir sejauh itu soalnya dia belum pernah tau (mungkin) gimana susahnya pelajaran ini.
Saya rasa, kalo bener-bener sama plotnya dengan di novel, film ini jadinya ga bisa dinikmatin semua orang, anak-anak kecil akan kebingungan dengan beratnya isi cerita.
Buat saya, film ini baik untuk menggugah semangat anak-anak untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya dan mempunyai cita-cita yang tinggi untuk diraih.
rzrd
October 8, 2008
Tiap orang punya pendapat berbeda2. Di sini anda marah2 karena Riri Riza dan Mira Lesmana membuat Lintang tidak sejenius di novel. Tapi tahukah anda bahwa ada sangat banyak orang yg justru memberi acungan jempol pada Riri dan Mira atas keputusan itu.
Kenapa? sederhana saja, novel Andrea itu lebay abisss, termasuk dalam penggambaran soal kepintaran Lintang.
FYI, tidak semua yg ditulis Andrea itu true story. Sebagian memang iya, sebagian lagi adalah imajinasi Andrea (Kebetulan gw salah satu maniak LP dan bersama salah satu teman di forum, kita berusaha cari info mana yg true story, mana yg khayalan Andrea, mana yg ada tapi diubah faktanya sedikit). Bu Mus, A Kiong, Syahdan dan Kucai malah nggak ingat ada tokoh bernama Lintang di kelas mereka. Saat ditanya siapa anak paling pintar di kelas Laskar Pelangi, mereka bilang “Andis (nama kecil Andrea)”.
Kalau anda teliti saat membaca, novel Andrea itu banyak bohongnya (alias bagian dari imajinasi berlebihan Andrea, yg secara tersirat dia akui sendiri di salah satu novelnya bahwa orang Melayu pintar bicara dan punya kecenderungan untuk hiperbolis).
Oleh Riri dan Mira hiperbolisme Andrea ini dinetralisir, jadinya malah bagus kok. Malah lebih realistis. Coba deh seandainya kamu nggak pernah baca bukunya, cuma nonton filmnya aja, terus Riri dan Mira membuat adegan dan pertanyaan cerdas cermat sama persis seperti di bukunya, mereka yg cuma nonton filmnya aja bakal berkomentar “wah ketauan boongnya, mana ada cerdas cermat soalnya sesusah itu?”
BTW, are you sure film Alenia terlepas dari kepentingan tertentu? Sekali lagi, kalau anda teliti, film Denias itu keliatan sekali propaganda kemuliaan TNI. Saya pribadi nggak keberatan, tapi tetap saja ada ‘kepentingan’ bermain di dalamnya kan?
indi
October 11, 2008
Whuoooww, udah lama ga ngupdate blog, rupanya udah banyak aja comment bwat Laskar Pelangi di sini…
Hemph, mulai dari mana ya? Okay, kita mulai dari “ke-lebay-an” Andrea Hirata dalam mendeskripsikan kejeniusan Lintang. Terlepas dari ada tidaknya tokoh Lintang, atau terlepas dari benar tidaknya kejeniusan Lintang (hanya Andrea Hirata yang bisa menjelaskannya gwa rasa), tahukah kalian bahwa Lintang adalah salah satu tokoh yang menginspirasi kehidupan banyak orang di luar sana? So what kalau Lintang tidak benar ada? So what kalau Lintang tidak sejenius yang digambarkan oleh Andrea Hirata dalam bukunya yang seperti anda bilang adalah produksi kehiperbolisan Andrea Hirata?
Intinya adalah banyak orang yang percaya dan mau percaya, banyak orang yang terinspirasi akan ketulusan dan kemauan tokoh ini dalam belajar dan bermimipi. Karena apa? Karena kita pun ingin percaya bahwa kita bisa bermimpi seperti mereka juga. Di novelnya, Andrea Hirata mencoba memberitahu kita lewat kata-katanya bahwa kita masih bisa berharap dan bermimpi dalam keadaan sesulit apapun. Apa yang salah dengan itu?
Dan kalaupun gwa ga baca novelnya terlebih dahulu, gwa rasa gwa ga akan berkomentar skeptis dengan, “Wah ketauan boongnya, mana ada cerdas cermat soalnya sesusah itu?” kalau ternyata mereka menampilkan adegan cerdas cermat seperti halnya di novelnya. Karena di sini lagi-lagi Andrea Hirata hanya berusaha mendeskripsikan kecerdasan (baca: kejeniusan) salah satu tokohnya, that’s all. Seperti halnya kecerdasan Husein Tabataba’i (7 tahun) dan kecerdasan March Boediharjo (9 tahun), yang memang benar ada dan nyata (percaya ato ga, tapi bocah-bocah dengan kejeniusan di atas rata-rata orang dewasa memang ada loh…) Dan seharusnya, di sinilah, sineas-sineas itu bisa ikut sedikit melebih-melebihkan dan bermimpi bersama Andrea Hirata. Dan jangan khawatir anak-anak Indonesia tidak cukup mampu untuk memahami arti sebuah kecerdasan, karena gwa rasa mereka sudah jauh terlebih dahulu mengenal Einstein atau tokoh-tokoh lainnya dari film-film kartun atau bacaan-bacaan untuk seusia mereka.
Karena apalah artinya bermimpi jika kita diajak untuk terus menatap sebuah realitas?
Gwa pun tadinya ga tau kalau novel ini ternyata didasarkan pada kisah nyata sampai gwa selesai membaca Laskar Pelangi hingga halaman paling akhir, dan tetap gwa bisa menikmatinya tanpa sedikit pun merasa digurui atau dinasehati. Adalah menjadikannya nilai plus ketika gwa tau bahwa ternyata novel ini based on his true story. Dan ketika sekarang kita dihadapkan pada kenyataan bahwa ga 100% cerita Andrea Hirata benar-benar terjadi di kehidupannya, well, so what?
Bagi gwa, Andrea Hirata tetap merupakan seorang penulis yang bisa mengajarkan cerita hidup tanpa bermaksud menggurui, dan seorang penulis yang bisa mengajarkan nilai-nilai dan falsafah hidup yang selama ini luput dari penulis-penulis lainnya.
Tapi satu yang patut diacungi jempol dari film Laskar Pelangi ini adalah keberanian dua sineas ini untuk merekrut bocah-bocah Belitong aseli, dan well what can I say? Film ini memang bagus, terlepas dari tokoh Tora Sudiro (hihihihi, gwa emang ga pernah demen ma satu orang ini, no offense ya, Bang Tora…) dan kekuranglebayan (halah, bahasa apa toh ini?) tokoh Lintang yang jenius… Banyak yang bilang, film ini menginspirasi banyak orang, walaupun tidak se-menginspirasi bukunya, terlepas dari -sekali lagi- apakah tokoh-tokoh ini benar ada atau tidak, well, itu hak masing-masing penulis untuk mengembangkan daya imajinasi mereka dan kita sama sekali tidak punya hak untuk mengatakan suatu karya tulisan seseorang adalah bohong belaka atau hanya rekaan semata yang berlebih-lebihan, karena esensinya toh bisa dirasakan oleh semua pembacanya kan? Banyak yang terjebak dan terlena untuk mencari kebenaran dari tokoh-tokoh ini sehingga akhirnya lebih sibuk untuk memikirkan rasa sakit hati “dibohongi” oleh Andrea Hirata dan lupa makna sebenarnya dari penciptaan novel ini. Ada yang bilang Harun tidaklah terbelakang seperti yang diceritakan Andrea Hirata dalam novelnya, ada yang bilang Trapani tidak pernah menderita gangguan jiwa. Well, does it really matter after all?
Dan untuk Alenia, hehehe, lagi-lagi itu cuman opini pribadi, masing-masing tentu punya penilaiannya sendiri-sendiri…yang jelas siy gwa paling ga demen sama film-film yang diproduseri sama keluarga India… *no offense lagi ya, lagi-lagi ini cuman masalah sentimen pribadi…
Thanks anyway for visiting my blog and for ur comment… Salam kenal ya, en kabar-kabari kalo buku Maryamah Karpov udah keluar…
..estee..
October 13, 2008
gile bahasa mu ndo..
Teguh
November 30, 2008